Kumpulan Cerita Pendek
Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
Posted : 10 Mar 2008 | Dibaca : 7048 Kali
Bagian V
Saya sedikit memiliki sangkutan dengannya hingga
ia tak sengaja menemukan sebuah kata-kata jika saya mencintainya. Entah ia tahu
dan membaca kata-kata itu, atau ia tak membacanya, saya tak tahu pasti.
Didalamnya, ada beribu kata pelampiasan rasa cinta saya padanya. Sebuah puisi
yang saya tulis dengan rindu dan cinta yang bercampur didalamnya menjadi satu.
Saya sangat lupa dan ceroboh sekali membiarkannya tergeletak begitu saja hingga
dirinya mengambilnya. Saya hanya makhluk yang penuh dengan segala kekurangan.
Hati ini didera kekhawatiran yang begitu luar biasa. Saya sangat takut jika ia
membacanya dan mengetahui apa yang ada dalam hati ini, setelahnya ia akan pergi
menjauh meninggakan cinta yang telah bersemi menggebu. Saya takut bunyinya akan
seperti ini: Aku mengharu biru takkala kesepian meleyap mencekam dermaga jiwa,
atau Batinku menelangsa berdarah-darah tiada dia manakala ia sirna terbang
mencampak asmara (Andrea Hirata, Laskar Pelangi).
Saya bisa mengambil kesimpulan
jika ia telah membacanya. Karena entah ini benar atau tidak -saya berharap tidak
benar- ia tak seperti dahulu. Ia lebih diam dan seakan sungkan untuk berbicara
dengan saya. Ya Allah, mengapa kejadian seperti ini selalu akan terjadi? Saya
tak ingin hati saya kembali berkabung. Apalagi saat-saat cinta ini begitu
derasnya mengalir. Ya Allah... Apa yang harus saya lakukan? Saya tak ingin ia
menjadi bersikap segan terhadap saya atau bahkan yang lebih ekstrim, ia menjauhi
saya. Saya tak ingin kehilangan cinta saya. Dan yang lebih sederhana, saya tak
ingin dijauhi oleh seorang teman seperti dirinya. Karena sesungguhnya, ia adalah
keduanya. Saya sama sekali tak menginginkan hal itu terjadi...
Esoknya ia begitu
terlihat tidak seperti biasanya. Saya tak tahu mengapa. Ia terlihat begitu
pendiam. Awalnya, saya menyangka bahwa ia telah mengetahui perasaan saya
terhadapnya dan ia bersikap yang demikian untuk hal itu. Namun, kenyataannya
ialah ia jatuh sakit, begitu menurut teman-teman saya dan dirinya sendiri. Saya
tak tahu pasti yang demikian. Menurut teman wanita saya, badannya panas saat ia
memegang salah satu dari bagian tubuhnya. Saya tak tahu pasti, apakah ia sakit
panas atau apalah, karena saya tidak bisa memegangnya seperti teman wanita saya
itu, karena sungguh saya tidak bisa mengkhianati kepercayaan Allah dalam menjaga
aurat. Selain itu, ia juga bukan muhrim saya dan haram bagi saya untuk
memegangnya. Saya hanya bisa melihatnya dengan perasaan hati yang tidak karuan.
Saya bertanya padanya ia hanya tersenyum dan diam dalam kebisuannya. Saya merasa
sangat amat khawatir. Namun, apalah daya saya tak bisa berbuat apa-apa ini. Saya
hanya bisa memandangnya yang seakan takluk oleh rasa sakit yang kini sedang ia
rasakan.
Ya Allah, perjelaslah sakitnya. Mudahkanlah ia untuk menghadapi
ujian-Mu, Ya Allah. Saya tak bisa membiarkannya jatuh sakit seperti itu. Ya
Allah, ringankanlah sakitnya. Sungguh, saya tak dapat berbuat apa-apa untuk yang
demikian. Saya hanya bisa meihatnya merintih tertatih-tatih oleh sakitnya. Saya
tak bisa meringankan beban yang kini sedang diembannya. Jika saya halal baginya,
saya akan merawatnya dengan cinta kasih yang tiada tertara. Merawatnya dengan
bendungan cinta yang terlalu menggebu-gebu dan hati ini. Memberikan kasih sayang
yang tulus tak mengharapkan apapun, kecuali kesembuhan kekalnya. Ya Allah, saya
ingin menjadi yang halal baginya. Yang bisa merawatnya. Agar ia tak merasa
sendirian didunia fana ini. Berkatilah kesembuhan baginya. Tak ada yang bisa
menyembuhkannya kecuali diri-Mu yang memiliki kuasa sebagai penciptanya. Yang
memiliki kekuasaan 100% atas dirinya. Maka berilah ia kesembuhan dengan segera.
Saya tahu Kau sedang membersihkan dosa-dosanya dengan jalan memberinya sakit
seperti ini, agar jika ia nanti meninggal dalam jalan-Mu, ia tak perlu lagi
diadili, karena dosa-dosanya sudah gugur kala ia menderita dalam sakitnya.
Allahu alam. Namun, permudahkan jalannya dalam menempuh ridho-Mu. Permudahkanlah
kesembuhannya. Hanya kepada-Mu, semuanya kembali. Amin Ya Allah. Ya Allah, yang
Maha Tahu atas apa yang terselip direlung hati ini. Entah untuk hari ini hati
saya berkabung. Saya tak melihat kehadirannya dalam dekapan cinta saya. Ia jatuh
lemas terkulai. Kemarin, saya menyadari jika ia jatuh sakit yang serta merta
membuat saya tak bisa melihat keceriaannya yang nyata. Wajahnya pusat pasi
seakan menyimpan sakit yang mendalam dalam diri. Ya Allah, saya tak bisa berbuat
apa-apa. Namun Kau Maha Besar. Saya melihat semua itu dalam dirinya saat ini.
Meskipun ia dilanda rasa sakit yang mencekam jasmaninya, namun ia berbinar-binar
dengan semangatnya. Ketika jam belajar berlangsung, ia sama sekali tak merasa
jenuh. Ia adalah pribadi yang sangat bersemangat. Subhanallah. Sebelumnya, pagi
itu saya menanti kedatangannya diantara gerimis yang membungkus langit. Perasaan
hati ini begitu tidak enak. Ada apa dengannya? Saya takut ia tak datang dan kini
sedang tergulai lemah di peraduannya.
Saya berkali-kali memandang kearah tempat
parkir, agar saya bisa mengetahui kedatangannya dengan kendaraan yang biasa ia
bawa. Atau saya dapat memperhatikan terus menerus kearah gerbang depan
menantinya untuk datang. Dalam kebimbangan yang membungkus hati daya, tiba-tiba
saja bayangannya datang bagai oase di gurun hati saya. Begitu sejuk menyegarkan
dahaga saya. Saya tau sekali jika ia masih sakit, namun karena ia adalah pemuda
bersemangat, ia terpaksa datang. Kau membuat saya mengaguminya untuk kesekian
kalinya. Esoknya, ia memang benar-benar tidak datang. Mungkin, sakitnya itu
melebihi apa yang ia bisa tahan. Seperti pagi dihari kemarin, saya menanti
kedatangannya. Namun, untuk hari ini ia memang tidak datang. Surat sakitnya pun
saya baca dengan luapan kekhawatiran yang besar. Saya sama sekali tak tahu sakit
apa yang melandanya. Bagaimana keadaan dirinya saat ini? Bagaimana keadaannya
kini, dan lain sebagainya. Saya ingin sekali mengetahuinya, untuk itu saya
menanyakan pada teman-temannya. Mereka pun sama sekali tak mengetahui sakit apa
yang kini tengah melandanya. Saya ingin sekali bertanya padanya tentang sakit
yang ia dera, sekedar untuk memuaskan kekhawatiran ini.
Saya ingin sekali
menghubunginya. Menanyakan macam-macam apa yang ingin saya tanyakan. Namun, saya
begitu amat malu. Saya tak ingin ia mengetahui saat ini saya sedang
mengkhawatirkannya. Saya tak ingin ia mengetahui gejolak hati ini. Sekali lahi,
saya tak bisa berbuat apa-apa. " Kau kenapa? Karena dirinya? " salah satu teman
saya yang mengetahui jika saya mencintainya bertanya pada saya yang demikian. " Tak ada apa-apa. Saya hanya khawatir atas ulangan sebentar yang lagi akan
dilaksanakan " saya berbuat dosa lagi. Saya berbohong hanya karena menutupi
kekhawatiran ini. Hari ini memang ada ulangan yang sebentar lagi akan diujikan.
Namun, sejak tadi malam hingga saat ini, saya tak bisa berkonsentrasi penuh
untuk hal itu, karena hati saya sedang diinggapi rasa tak enak entah karena apa.
Dan sekarang sudah terjawab apa rasa tak enak yang belakang menghinggapi hati
saya. Lalu ia tersenyum dengan nada menggoda. " Sudahlah, saya tahu semuanya.
Kau seperti mengkhawatirkannya. Kau sangat berbeda untuk hari ini. Cerialah,
Teman! " saya teriris mendengarnya. Apakah saya memang begitu merasa
kehilangannya. Apakah ini berarti saya begitu mencintainya? " Kau seperti
kehilangan arah hidup saat ia tak berangkat hari ini. Untuk satu hari ini saja
kau diam seperti ini, apalagi untuk jumlah hari yang kita tak tahu nanti...? " Astagfirullah... Apa saya memang terlihat seperti itu? Apakah saya akan sanggup
akan kehilangannya dihari nanti? Jujur saya mengakui, saya seakan kehilangan
setengah dari jiwa saya. Apalagi, mendengar jika ia sedang jatuh sakit dalam
deritanya. Saya kembali memutar kenangan-kenangan jika ia ada disini seperti
hari-hari yang lalu. Jika ia ada disini, saya kan melihatnya sibuk dengan
buku-bukunya. Apalagi, jika akan ada ulangan yang akan dilangsungkan. Ia akan
selalu bergulat dengan buku-buku itu. Jika ia ada disini, saya akan melihatnya
sibuk dengan tanggung jawab yang belakangan dipikulnya. Beberapa orang akan
sibuk dengannya. Dan dengan rasa tanggung jawabnya yang besar itu lah ia
menanggapi beberapa orang tersebut. Jika ia ada disini, saya akan melihatnya
mengobrol dengan saya disela-sela kesibukannya. Ia membicarakan banyak hal. Dan
obrolannya itu sangat bermanfaat bagi saya. Jika ia ada disini, saya akan
mendengar tawanya yang khas. Tawa yang tidak seperti orang kesetanan, tawa yang
pelan dan sewajarnya. Jika ia ada disini, saya akan terkejut dengan
desahan-desahan surga darinya. Ya Allah, mengapa pikiran saya penuh sesak akan
kenangan bersamanya? Kala ia sehat, ada banyak binar-binar semangat terpancar
daam dirinya. Saya bisa merasakannya karena saya telah memiliki jiwanya. Jiwa
yang penuh dengan gairah kesuksesan.
Semangatnya terlalu menggebu-gebu, adakah
ia tahu saya memperhatikan ketangguhan semangatnya selama ini? Baru kali ini
saya menemui seseorang yang selalu bersemangat. Yang selalu optimis. Yang tak
pernah mundur hanya karena kegagalan. Dan dia sangat yakin bisa membuat hidupnya
sukses baik di akhirat maupun di dunia. Adakah semangat itu selalu menyinari
jiwanya ? Ya tentu, kerena menurut saya, dia adalah dewa penyemangat. Yang
memiliki semangat menggunung, juga bisa membuat lingkungannya bersemangat. Tak
hanya manusia, tanah yang dipijaknya, tanaman yang dilewatinya pun ikut
bersemangt. Bersemangat mengarungi hidupnya masing-masing, juga bersemangat
menyembah Tuhannya. Tuhan yang Esa, hanya Kau, Ya Allah.. Namun kini,
kehadirannya pun tak terlihat untuk waktu yang sekarang. Bisakah kau
membayangkan tanpa ada kehadirannya saya tak berarti apa-apa ? Saya telah
kehilangan semangat saya. Semangat saya adalah dirinya. Jika saya kehilangan
semangat, tak terkecuali lingkungan yang juga dirundung nestapa yang sama.
Dapatkah kau membayangkan waktu disaat ini seakan terhenti karena tak ada
hembusan semangat dari dalam diri ini ? Karena sesungguhnya, semangat saya
adalah semangat yang tertanam kala merasakan kehadirannya. Hingga, kehadiran itu
tak nampak, semangat saya luluh lantah dan membuat saya tak berdaya. Adakah
semangat itu harus hilang untuk selamanya? bersambung kebagian 6
Cerpen Lainnya
- SINDROM MOTOR?
- BAHAGIA PERIH
- SUATU MALAM DI MUARAKONENG
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
- Percintaan Daun dan Ranting
- LELAKI MERDEKA
- Anomali Mimpi
- Heri
- OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
- Menanti Maafmu
- Campus Idol
- Disudut Hatimu Aku Menanti
- LANGIT-LANGIT BUATKU
- catatan harian aini

1247620 Visitors
Online :12
users