SUKAINTERNET SITUS PEMERHATI PENDIDIKAN ---------------------------------- BEASISWA ONLINE ---------------------------------

Pencarian

Crew Sukanet

beasiswa
owner
admin
creator
support

ADS



Statistik Web

 1245209 Visitors
  31600 hits
  Online :21 users

Page Ranking Tool

Login

User :
Pass :

Lupa Password Daftar

Informasi

08 Jan 2010
Dear All, mohon maaf atas keterlambatan posting para pemenang, kami akan lebih baik lagi. Terima Kasih.
dari Admin

Info Lainnya

Iklan Baris

30 Dec 2009
UNDUH NASKAH DRAMA, VIDEO BACA PUISI, DLL

JIka kamu membutuhkan bahan apresiasi, silahkan kunjungi http://katasaya.co.cc dan unduh sepuasnya naskah drama, puisi, cerpen, video baca puisi, video baca ...Baca Iklan


30 May 2009
BISNIS SAMPINGAN YANG NYAMAN

SIAPAPUN ANDA? MAHASISWA, KARYAWAN, PELAJAR, IBU RUMAH TANGGA, WIRASWASTA, TIDAK PERLU BINGUNG DAN KHAWATIR CARI BISNIS. BERGABUNGLAH BERSAMA KAMI DALAM ...Baca Iklan


20 May 2009
Bisnis atau Penghasilan Tambahan

apakah anda ingin punya bisnis/penghasilan tambahan tapu tidak punya modal atau takut rugi....tunggu dulu.

kenapa tidak manfaatkan HP sebagai ...Baca Iklan


16 Feb 2009
buka penerbitan

telah di buka penerbitan untuk buku, kumpulan cerpen, kumpulan puisi dan novel

penerbitan berbasis mobile book

jadi ga usah bingung bagi anda ...Baca Iklan


Top 10 Puisi

  1. Kau Tetap Berbeda
  2. Semusim , Sewaktu
  3. SILAU DI GUA NURANI
  4. Sang Guru
  5. Ibu
  6. Kisah Sebuah Pengabdian
  7. PERTEMUAN ILALANG DAN SETANGKAI GURU...
  8. Kepada Sopan Sopian
  9. Syair Perang Sunggal
  10. KOTA MATI

Arsip Lomba Puisi

  1. Puisi Sukanet
  2. Lomba Puisi Ke 4
  3. Lomba Puisi Ke 5
  4. Lomba Puisi Ke 6
  5. Lomba Puisi Ke 7

Komunitas




Kumpulan Cerita Pendek

SUATU MALAM DI MUARAKONENG
Posted : 11 Apr 2008 | Dibaca : 6945 Kali

Penulis : Dedes Sudiyanto

Perubahan pasti ada di setiap tempat di planet bumi ini, begitu pun di desaku, Muarakoneng. Dulu pemuda-pemudinya degil, sekarang mereka berlomba tampil gaya ala Ariel (Peterpen) atau Avril (Lavigne). Kebiasaan orang tua pun ikut berubah. Dulu, setiap lepas Isya, mereka ngobrol ngaler-ngidul di beranda rumah dengan kopi panas sebagai penawar dinginnya. Sekarang kopi lebih sering tersaji di depan tv, dan jam segini pintu-pintu rumah sudah pada terkunci. Itulah perubahan. Lain-lainnya, seperti; jengkrik mengirik, kodok mengorok, burung hantu di kejauhan, gemericik air pancuran, gemerisik dedaunan, mungkin masih bisa bertahan sampai 5 tahun ke depan. Mudah-mudahan.

Perubahan kebiasaan itu tak lain dan tak bukan adalah pengaruh tv, media elektronik bawaan dunia modern: iblis jahat, ungkap seseorang yang menulis buku tentang Posmodernisme Islam. Gara-gara tv warga di desaku melupakan bagian dari silahturahmi, lantas dengan bangga mengadovsi budaya kota: individualis. Gara-gara tv, suasana di desaku jadi sepi, tak ada lagi sorak-sorai bocah bernyanyi. Meskipun misalnya purnama hadir sebulan sepuluh kali, tetap, mereka memilih duduk menonton Dangdut Maniak di TPI. Gara-gara tv kolam-kolam kehilangan banyak ikan, kebun buah-buahan laksana dipanen setan, baju-baju jemuran berpindah tuan, gardu ronda tinggal kenangan.

Tapi, aku memuji dua orang pemuda, Apip dan Naryo, karena tidak gara-gara tv keduanya alpa nongkrong di warung Leli.
"Kewajibanku setiap malam adalah nongkrong di warung Leli," kata Apip tempo hari lalu.
Bukan tanpa alasan, Leli adalah wanita yang amat ia idam-idamkan, siang dan malam. Begitu pun Naryo, mengidamkan Leli, malam dan siang.
Lalu aku menimpali ucapan Apip bahwa Naryo pun punya 'kewajiban' yang sama: nongkrong di warung Leli. "Apa boleh buat, kau harus pinjam duit banyak-banyak ke bank untuk menyaingi dompet si Naryo yang tebal. Siapa paling banyak jajan, dia berhak atas Leli."
Apip terhenyak. Terus terang, soal doku Apip keok melawan Naryo.

Memang gila (tapi aku menyukai hal-hal gila untuk menghibur hati yang dilanda sepi akibat tv), berbagai permainan digelar untuk mempertaruhkan Leli. Main domino Naryo KO, tapi ia pantang mundur, malah ajukan 'banding' lewat permainan remi. Giliran Apip, loyo! Apa lagi? Kusarankan Apip membawa papan catur ke warung Leli. Apip manut. Lantas dengan lantang ia berseru pada Naryo:"Aku ingin menjajal seberapa jenius otak lapukmu,Yo!"
"Dengan?"
"SKAK!"
Naryo ok saja. Ia memang dikenal sebagai lelaki penyabar. Asal tahu saja, usianya sekarang sudah berkepala 3, dan hanya mengusap dada di-'lelewe' ucapan Apip yang ABG. Kalau bukan Naryo, sudahlah, benjol-benjol tuh muka si Apip.

Leli pura-pura tidak menyadari kalau kedua pemuda itu akan mempertaruhkan dirinya. Ia tahu, tapi toh ia butuh duit. Maka disambutlah kedatangan Apip dan Naryo dengan keramah-tamahan. Ia senang karena Naryo menggelontorkan duitnya untuk 2 mangkuk bakso dan sebungkus Marlboro. Ia tetap tersenyum saat Apip sodorkan sekeping 500 untuk roti kacang sebungkus.

5 menit bertanding, pembeli datang dan pergi silih berganti. Sesekali terdengar keluh kesah Apip. Pantas, karena prajurit putihnya sudah 3 yang tewas, sebelumnya kuda, lalu terakhir benteng. Hek, Apip sesak nafas. Sementara armada hitam milik Naryo hanya satu prajurit koit.
"Sudahlah, menyerah saja," kata seorang pembeli sambil berlalu pergi. Ia pergi mau nonton tv.
"Hanya dengan sebuah keajaiban raja putihmu selamat," yang lain menepuk ringan bahu Apip, lantas pergi pula. Katanya di Indosiar ada Sinema India.
Apip mendelik marah.
Naryo terkekeh senang.
"Sabar ya, Pip,jangan menyerah dulu," Leli berseru dari dalam warung.
Syukurlah, support dari Leli segera meneduhkan kondisi hati Apip. Kayaknya sih Leli memihak Apip, terbukti saat kuda putih dipelintir peluncur hitam, Leli mengeluh. Pun, ketika benteng putih terjebak dan menjadi santapan kuda hitam, Leli merengut. Hati Apip sesungguhnya riang gembira. Ia pikir Leli pasti lebih menyukainya. Maka, ketika si mbak melayani seorang ibu yang mau beli Pilus Garuda, yang kata si ibu anaknya merengek-rengek setelah melihat iklan Pilus di tv, Apip berbisik di kuping Naryo: "Yo, tak perlu kita bermain catur."
Naryo terpana sejenak, lalu tersenyum. "Kenapa? Menyerah?"
"Kalau kau menang pun percuma, buktinya Leli memihak padaku."
"Itu lumrah, Pip, penonton betina, apalagi Leli yang buta soal catur cenderung memihak pada pemain yang berpotensi kalah."
Hek! Apip sesak lagi. "Kau cemburu, kan?"
Naryo terbahak. "Ciumi dia, Pip! Peluk sekalian! Silakan!"
Tahu-tahu Leli sudah berdiri di antara mereka. "Ada apa, sih?" tanyanya.
"Dia menyerah, Lel," jawab Naryo.
"Jangan dong, Pip. Kau pasti menang. Mbak doakan, ya?"
Apip tambah mencerengut. Sudah jelas mau keok kok dibilang akan menang!
"3 langkah lagi kau mati, Pip!" Naryo menakut-nakuti.
Tak pelak, Apip cemas. Tapi... "Jangan sombong dulu, Yo. NIH, LIHAT!" teriaknya sambil menggeser patihnya ke baris terdepan
(hal 1)

"Aaah... kalau ster-mu ke situ tinggal 2 langkah lagi, dong!"
Apip ragu. Digeser lagi patihnya ke posisi semula.
Naryo terbahak lebih kuat. "Ternyata IQ-mu sepuluh tingkat di bawahku, Pip. Hahaha..." sambil tertawa Naryo menempelkan jari telunjuknya dengan posisi miring di kening.
Grrrtk! Bunyi geraham di mulut Apip bergemelutuk. Wajahnya gosong. Pandangannya runyam. Ia melihat bidak-bidak catur bergerak tak aturan, berjoget, menunggit-nunggit, meledeknya habis-habisan.
Untungnya, sentuhan tangan Leli di bahu sanggup meredam emosi Apip. Kebetulan pula mengalun sebuah lagu dangdut dari arah gardu ronda. Sirna amarah Apip. Wah, kalau tidak, mungkin tangannya gemetar tadi akan membanting papan catur ke jalan, permainan pun berubah jadi keributan. Terlepas itu pula, Apip menyadari nyalinya masih segelintir untuk saling baku hantam dengan Naryo. Ia takut KO

:-l

Lagu Merpati Putih milik Ikke Nurjannah mengalun di kesunyian. Akulah yang memutarnya. Sengaja kubawa tape compo cap Okaido-ku ke gardu ronda supaya para pemuda turun dari rumahnya masing-masing untuk nongkrong di bawah purnama. Tapi sial, ditunggu lama tak satu pun yang datang. Otak mereka telah direnggut si 'iblis' bernama tv, warisan peradaban barat. Huh!

Baiklah, aku punya rencana...

Kulempar pandangan ke warung Leli. Si Apip masih merengut. Ia akan marah besar kalau kau diberi tahu: apalagi yang terjungkal?
"Aduuuh, Pip, patihmu mana?" pekik Leli tiba-tiba, matanya melotot ke papan catur.
Apip memejam mata, mendengus kesal, menghentakkan kuat-kuat tumit kakinya ke bumi.
Leli baru mendapat jawaban ketika Naryo mengacungkan patih putih nyaris nempel di hidungnya yang jumbo. "Dipelintir prajurit kecilku," jelas Naryo, lalu terkekeh senang.

smilie for :-)

Langkah kakiku ringan menapak di jalan. Sesekali kutendang kerikil sampai berloncatan ke got. Bunyinya menggelutuk bikin suasana tak nyaman dalam hati. Kutarik Class Mild dari saku jeans, tinggal sebatang, kuselipkan di bibir. Aku melangkah menuju warung Leli untuk minta api. Sampai di warung, aku tergoda menepuk bahu Apip yang sedang serius.
"Wah, Pip, hebat! Mau menang, apa?" ledekku.
Apip bergeming. Masalahnya, sekarang pion-nya tinggal raja doang.
"Kemarin kau bilang jago main catur," lanjutku, merasa ledekanlu tadi kurang mengena.
Apip mendongak marah. "Sialan, aku tak pernah bilang begitu padamu!"
"Ya sudah, kalau tak mau dibilang jago, betina saja."
Dari dalam warung, Lelì tertawa.
Naryo mesem saja.
"Sudah lama kalian main?" aku mengambil korek api di atas meja, menyulut rokok.
"Ini masih ronda 1," jawab Naryo. "Di ronde 2 nanti dia mau balas dendam."
Aku terbahak, lantas pergi. Ronde identik dengan tinju, apakah Apip akan mengakhiri pertandingan catur itu dengan tinju? Aku baru berhenti terbahak ketika aku ingin menghisap rokok. Asap menghambur ke udara, menambah pekat warna kabut

Tak lama setelah aku pergi dari warung Leli, Jejen dan Ryan (keduanya tak menemukan acara seru di tv) datang memesan teh manis. Jejen mengambil untaian kerupuk sementara Ryan langsung jongkok di depan papan catur. Anak kelas 3 SMP itu menyesalkan langkah raja Apip yang terpojok.
"SKAK!" teriak Naryo tiba-tiba.
Apip melengos. Ia mati kutu.
"Sekarang main denganku, Bang Naryo!" Ryan berdiri, seperti hendak menyingkirkan Posisi duduk Apip di bangku.
Karuan saja Apip nyerongot galak. Ryan dan Jejen saling pandang, melongo. Naryo tersenyum-senyum.
Si Apip sudah di atas 180 derajat selsius, rupanya.

;-)

'MALAM INI, AKAN TERJADI KEHEBOHAN DI MUARAKONENG'

Leli merenung. "Siapa yang menulis ini?" gumamnya dalam hati. Di tangannya tergantung secarik kertas bertuliskan kalimat di atas. Kertas itu secara tak sengaja ia temukan di lapak meja jualannya, ditindih bungkus rokok Class Mild kosong serta korek api yang pentulnya tinggal 2 batang.
"Ada apa, mbak? Kok menung?" tegur Helmi. Ia sudah beberapa menit hadir di warung itu.
"Kau yang menulis ini?" Leli balik bertanya sembari menyodorkan kertas.
Helmi menerimanya, lalu dibaca. Ryan dan Jejen sejenak alihkan perhatian dari papan catur. Naryo menoleh sedikit. Sedang Apip... wah, tampaknya ia berusaha tak peduli.
"Yeee... apaan itu?" Ryan berseru setelah tahu isi bacaannya. Ia kembali jongkok depan catur. Matanya sesekali mendelik ke arah Apip. Ia sudah tak sabar ingin Apip segera menyingkir.
"Kukira surat kiriman pacar," kata Helmi, meremas-remas kertas itu dan membuangnya ke got.
"Memangnya, pacar mbak siapa, sih?" Ryan bertanya.
Semua mata tertuju ke Leli, semua ingin tahu jawabannya. Dan Apip... dadanya berdebar.
Leli menggeleng tanpa suara.
"Kau mau tahu, Yan?" kerling Naryo. "Akulah pacarnya," sambil menepuk dadanya sendiri.
Ryan menjulurkan lidah. Ia tak percaya.
"Benar, mbak?" tanya Helmi.
Leli tersenyum seperti biasa.
"Memang kenapa kau tanya pacar mbak Leli segala?" tiba-tiba Apip nyerobot galak.
"Terserah aku. Apa urusanmu?" balas Ryan kecut.
"Sopan dong sedikit!"
"Eh, aku nanya siapa pacarnya, kok dibilang tidak sopan?"
"BANGSAT!" Apip berdiri.
(hal 2)

Tangannya terkepal, siap dihantamkan ke mulut Ryan. "KAU INGIN TAHU SEPERTI APA ITU KESOPANAN?" bentaknya.
"Sabar, Pip, sabar!" Naryo seorang penyabar, kitapun tahu. Tapi Apip rupanya sudah habis kesabaran. Tangan Naryo ditepisnya dengan garang. Tak ketinggalan, dibanting pula papan catur sampai bidak-bidaknya mabur. Sudah begitu baru ia membal-bal kepala Ryan.
Jejen tak terima melihat sahabatnya disiksa. Ia segera pasang tinju. Sial bagi Jejen, sebelum sempat meninju, Apip lebih dulu menyodok sesuatu di selangkangan pahanya. Jejen meraung dan ambruk dengan mata terjelit. Nyaris pingsan.
Helmi dengan kalangkabut melerai. Alhasil, ia mendapat jatah 1 bogem mentah.
Sampai akhirnya... jekuk, jekuk, jekuk!
Apip terjungkal, memegang perutnya, mencoba bangkit, melotot ke arah Naryo penuh dendam, lalu pergi sempoyongan sambil terus memegang perutnya.
"Ini bukan berarti saya sudah habis kesabaran," ujar Naryo sambil mengelus kepalan tangannya. Tak cuma dielus, bahkan ditiup-tiup segala. Barusan Naryo menggunakan tinjunya itu untuk mengakhiri aksi brutal Apip. 3 kali jotos di perut, si Apip langsung KO.

:-o

"Mbak!"
Leli terperanjat. Lamunannya buyar seketika.
Tapi rupanya bukan cuma Leli yang kaget, beberapa pemuda yang lagi mengobrolkan acara tv pun tersentak. Mereka melihat Apip datang berkacak pinggang.
"Ada apa, Pip?" Leli berusaha tersenyum.
"Mana Naryo?"
Leli merenung sejenak. Ia curiga.
"Dia sudah pulang," terangnya. "Ada apa lagi kau bertanya Naryo, Pip?"
Apip mendengus. Matanya berkeliling dari satu kepala ke kepala lain. Helmi, Jejen, Agus dan... Apip melotot galak ke wajah Ryan. Yang diplototi kali ini berlindung di balik punggung Agus, takut dibalbal lagi.
Apip bergegas pergi.
"Dia galak sekali, Gus, si Ryan dihajarnya," kata Helmi pada Agus.
"Iya, nih, kepalaku benjol-benjol."
"Si Jejen yang parah. Biji kemaluannya pecah jadi empat."
"Akhirnya Apip terjungkal dipukul Naryo perutnya."
"Dan dia langsung kabur. Berak, kali."
"Eh, lihat!" Leli berseru. "Dia masuk gang menuju rumah Apip!"
"Biarkan saja, mbak!" Ryan kecut.
Tapi hati Leli was-was.

Pas, ketika Leli bersiap-siap menyusul Apip, sayup terdengar suara kentongan bertalu-talu, disusul teriakan...
"MALIIING...!"

:-o

Naryo sedang menyantap rebus telur puyuh ketika terdengar teriakan maling di luar itu. Ia bergegas ke dapur, menyelipkan palu kecil di pinggangnya (untuk berjaga-jaga kalau nanti ia berhadapan dengan maling itu), lalu menuju pintu depan. Begitu pintu dibuka, ia terkejut melihat Apip berdiri tegak menghadangnya dengan wajah beringas.
"Belum beres masalah, rupanya. Pip," tegur Naryo. "Atau...Eh, kudengar heboh orang teriak maling. Jangan-jangan kau malingnya. Mau apa kemari? Minta suaka?"
"Aku datang untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari maling itu kepadamu," jawab Apip, dingin.
"Caranya?" pancing Naryo.
Apip menyeringai. Dimasukkan tangannya ke balik baju dan menyentuh sesuatu di pinggangnya. Bibirnya dimonyongkan. "Aku harus melenyapkanmu dari muka bumi ini," ancamnya.
Naryo tersentak. Ia dalam bahaya. Ia mundur selangkah. Terdengar bunyi 'duk' ketika pinggangnya menyentuh pintu. Naryo ambil sikap waspada.
"Kau sedang bercanda, Pip,"
Apip tertawa. "Ha, penakut, kau!"
2 detik setelah mengucapkan kalimat itu, dan tampaknya ia tak ingin memberi kesempatan lagi pada Naryo untuk bicara, Apip mencabut benda di pinggangnya, menghambur ke depan Naryo, menusukkan benda itu tepat ke dada Naryo.
Sampai jarak sepuluh meteran dari rumah Naryo, barangkali masih terdengar suara Apip tertawa. Hanya sesaat. Tawa itu sekonyong-konyong diganti oleh jerit kesakitan yang menyayat.

:-(

Nun jauh di perbatasan desa, sang maling akhirnya tertangkap. Sudah pasti, itu maling babak-belur. Barang hasil curian segera diamankan, yakni... sepasang sandal jepit.
Korbannya adalah Bang Dadung. Ia sedang nonton laga Mandarin di tv saat sandalnya dicuri. Untunglah, tiba-tiba ada orang, entah siapa, berteriak maling di teras rumahnya. Lalu terjadilah pengejaran yang benar-benar heboh. Ini pertama kalinya terjadi di Muarakoneng.

smilie for :-)

Badai penyesalan bergulung hebat dalam hati, menguras tenaga, Naryo terkulai di sudut ruang rumahnya. Lemas.
Ia lagi-lagi bertanya pada dirinya sendiri, setan apa gerangan yang telah menggelapkan mata hatinya? Setan mana yang telah merasuk isi pikirannya, hingga ia kelepasan tangan membunuh Apip? Ia merasa, "Ini mimpi buruk."
Jengkel. Kesal. Ya, ia teramat kesal karena Apip tak habis-habisnya mempermainkan dirinya. Selama ini ia selalu mengimbangi kekesalannya dengan kesabaran, tapi ternyata kesabaran ada batasnya. Ia habis akal untuk tetap bersabar. Dan kejadian itu begitu spontan, sepertinya Naryo tak punya kesempatan untuk berpikir panjang, langsung dicabut palu kecil dari pinggangnya, dibenturkan kuat-kuat besi itu ke pelipis Apip, kiri dan kanan. Seakan tak puas, diangkat lagi palu dan dipukulkan telak ke ubun-ubun Apip. Apip mengerang 'maratan langit'. Darah menyembur di kedua pelipisnya. Darah muncrat dari
(hal 3)

ubun-ubun kepalanya yang pecah. Nyawa pemuda itu melayang.

Naryo memandang nanar mayat Apip yang kini membujur kaku di bawah jendela dekat kursi tamu. Ia berharap Tuhan bermurah hati mengembalikan nyawa Apip ke jasadnya. Entahlah, pikirannya kalut. Ia tak sanggup lagi berpikir jernih. Barusan ia dengan kalangkabut menyeret mayat itu masuk dalam rumah. Melihat darah berceceran di lantai, ia berniat ambil kain untuk mengelapnya. Tapi, yah, ia lantas terkulai lemas, terkulai dengan mata nanar memandang mayat Apip. Perlahan diturunkan tatapannya dan meneliti telapak tangannya sendiri. "Aku membunuh," bisiknya tertahan. Tatapan bergerak ke atas meja. Palu itu, di tangannya, membinasakan 1 nyawa.
Naryo memejam. Tiba-tiba ia teringat 'belati' milik Apip tertinggal di teras. Ia mencoba bangkit untuk mengambilnya, tapi lantas ia terkulai lagi. Biarlah, pikirnya, toh bukan belati beneran.
Naryo tahu ada beberapa pohon pisang di halaman rumah Apip yang buahnya sudah masak. Rupanya pohon itu sudah dipanen. Dan Apip datang sengaja menyelipkan salah satu buah pisang hasil panennya untuk menakut-nakuti Naryo. Ah, si Apip tertawa ngakak saat Naryo meloncat ketakutan karena menyangka buah pisang yang dihunuskan ke dadanya itu adalah belati. Terang saja Naryo naik pitam, lalu dibunuhlah si Apip hanya dengan 3 kali ketukan palu.
Tok, tok, dok!

:-o

Warga Muarakoneng, terutama mereka yang ikut mengejar maling, merasa amat terpukul karena telah kehilangan beberapa menit waktu mereka, yang seharusnya untuk nonton tv, malah dipakai untuk menyelamatkan sandal jepit Bang Dadung. Cih!

Aku, sang maling, meski harus babak-belur, menikmati betul keramaian suasana di Muarakoneng, malam ini.


Cerpen Lainnya

  1. SINDROM MOTOR?
  2. BAHAGIA PERIH
  3. SUATU MALAM DI MUARAKONENG
  4. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
  5. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
  6. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
  7. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
  8. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
  9. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
  10. Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
  11. Percintaan Daun dan Ranting
  12. LELAKI MERDEKA
  13. Anomali Mimpi
  14. Heri
  15. OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
  16. Menanti Maafmu
  17. Campus Idol
  18. Disudut Hatimu Aku Menanti
  19. LANGIT-LANGIT BUATKU
  20. catatan harian aini
Web Design
WebsiteCeria
Pulsa Murah
Web Design chools
Cheap ebhosting Seller