Kumpulan Cerita Pendek
SUATU MALAM DI MUARAKONENG
Posted : 11 Apr 2008 | Dibaca : 6945 Kali
Penulis : Dedes Sudiyanto Perubahan pasti ada di
setiap tempat di planet bumi ini, begitu pun di desaku, Muarakoneng. Dulu
pemuda-pemudinya degil, sekarang mereka berlomba tampil gaya ala Ariel
(Peterpen) atau Avril (Lavigne). Kebiasaan orang tua pun ikut berubah. Dulu,
setiap lepas Isya, mereka ngobrol ngaler-ngidul di beranda rumah dengan kopi
panas sebagai penawar dinginnya. Sekarang kopi lebih sering tersaji di depan tv,
dan jam segini pintu-pintu rumah sudah pada terkunci. Itulah perubahan.
Lain-lainnya, seperti; jengkrik mengirik, kodok mengorok, burung hantu di
kejauhan, gemericik air pancuran, gemerisik dedaunan, mungkin masih bisa
bertahan sampai 5 tahun ke depan. Mudah-mudahan.
Perubahan kebiasaan itu tak lain dan tak bukan adalah pengaruh tv, media
elektronik bawaan dunia modern: iblis jahat, ungkap seseorang yang menulis buku
tentang Posmodernisme Islam. Gara-gara tv warga di desaku melupakan bagian dari
silahturahmi, lantas dengan bangga mengadovsi budaya kota: individualis.
Gara-gara tv, suasana di desaku jadi sepi, tak ada lagi sorak-sorai bocah
bernyanyi. Meskipun misalnya purnama hadir sebulan sepuluh kali, tetap, mereka
memilih duduk menonton Dangdut Maniak di TPI. Gara-gara tv kolam-kolam
kehilangan banyak ikan, kebun buah-buahan laksana dipanen setan, baju-baju
jemuran berpindah tuan, gardu ronda tinggal kenangan.
Tapi, aku memuji dua orang pemuda, Apip dan Naryo, karena tidak gara-gara tv
keduanya alpa nongkrong di warung Leli.
"Kewajibanku setiap malam adalah nongkrong di warung Leli," kata Apip tempo hari
lalu.
Bukan tanpa alasan, Leli adalah wanita yang amat ia idam-idamkan, siang dan
malam. Begitu pun Naryo, mengidamkan Leli, malam dan siang.
Lalu aku menimpali ucapan Apip bahwa Naryo pun punya 'kewajiban' yang sama:
nongkrong di warung Leli. "Apa boleh buat, kau harus pinjam duit banyak-banyak
ke bank untuk menyaingi dompet si Naryo yang tebal. Siapa paling banyak jajan,
dia berhak atas Leli."
Apip terhenyak. Terus terang, soal doku Apip keok melawan Naryo.
Memang gila (tapi aku menyukai hal-hal gila untuk menghibur hati yang dilanda
sepi akibat tv), berbagai permainan digelar untuk mempertaruhkan Leli. Main
domino Naryo KO, tapi ia pantang mundur, malah ajukan 'banding' lewat permainan
remi. Giliran Apip, loyo! Apa lagi? Kusarankan Apip membawa papan catur ke
warung Leli. Apip manut. Lantas dengan lantang ia berseru pada Naryo:"Aku ingin
menjajal seberapa jenius otak lapukmu,Yo!"
"Dengan?"
"SKAK!"
Naryo ok saja. Ia memang dikenal sebagai lelaki penyabar. Asal tahu saja,
usianya sekarang sudah berkepala 3, dan hanya mengusap dada di-'lelewe' ucapan
Apip yang ABG. Kalau bukan Naryo, sudahlah, benjol-benjol tuh muka si Apip.
Leli pura-pura tidak menyadari kalau kedua pemuda itu akan mempertaruhkan
dirinya. Ia tahu, tapi toh ia butuh duit. Maka disambutlah kedatangan Apip dan
Naryo dengan keramah-tamahan. Ia senang karena Naryo menggelontorkan duitnya
untuk 2 mangkuk bakso dan sebungkus Marlboro. Ia tetap tersenyum saat Apip
sodorkan sekeping 500 untuk roti kacang sebungkus.
5 menit bertanding, pembeli datang dan pergi silih berganti. Sesekali terdengar
keluh kesah Apip. Pantas, karena prajurit putihnya sudah 3 yang tewas,
sebelumnya kuda, lalu terakhir benteng. Hek, Apip sesak nafas. Sementara armada
hitam milik Naryo hanya satu prajurit koit.
"Sudahlah, menyerah saja," kata seorang pembeli sambil berlalu pergi. Ia pergi
mau nonton tv.
"Hanya dengan sebuah keajaiban raja putihmu selamat," yang lain menepuk ringan
bahu Apip, lantas pergi pula. Katanya di Indosiar ada Sinema India.
Apip mendelik marah.
Naryo terkekeh senang.
"Sabar ya, Pip,jangan menyerah dulu," Leli berseru dari dalam warung.
Syukurlah, support dari Leli segera meneduhkan kondisi hati Apip. Kayaknya sih
Leli memihak Apip, terbukti saat kuda putih dipelintir peluncur hitam, Leli
mengeluh. Pun, ketika benteng putih terjebak dan menjadi santapan kuda hitam,
Leli merengut. Hati Apip sesungguhnya riang gembira. Ia pikir Leli pasti lebih
menyukainya. Maka, ketika si mbak melayani seorang ibu yang mau beli Pilus
Garuda, yang kata si ibu anaknya merengek-rengek setelah melihat iklan Pilus di
tv, Apip berbisik di kuping Naryo: "Yo, tak perlu kita bermain catur."
Naryo terpana sejenak, lalu tersenyum. "Kenapa? Menyerah?"
"Kalau kau menang pun percuma, buktinya Leli memihak padaku."
"Itu lumrah, Pip, penonton betina, apalagi Leli yang buta soal catur cenderung
memihak pada pemain yang berpotensi kalah."
Hek! Apip sesak lagi. "Kau cemburu, kan?"
Naryo terbahak. "Ciumi dia, Pip! Peluk sekalian! Silakan!"
Tahu-tahu Leli sudah berdiri di antara mereka. "Ada apa, sih?" tanyanya.
"Dia menyerah, Lel," jawab Naryo.
"Jangan dong, Pip. Kau pasti menang. Mbak doakan, ya?"
Apip tambah mencerengut. Sudah jelas mau keok kok dibilang akan menang!
"3 langkah lagi kau mati, Pip!" Naryo menakut-nakuti.
Tak pelak, Apip cemas. Tapi... "Jangan sombong dulu, Yo. NIH, LIHAT!" teriaknya
sambil menggeser patihnya ke baris terdepan
(hal 1)
"Aaah... kalau ster-mu ke situ tinggal 2 langkah lagi, dong!"
Apip ragu. Digeser lagi patihnya ke posisi semula.
Naryo terbahak lebih kuat. "Ternyata IQ-mu sepuluh tingkat di bawahku, Pip.
Hahaha..." sambil tertawa Naryo menempelkan jari telunjuknya dengan posisi
miring di kening.
Grrrtk! Bunyi geraham di mulut Apip bergemelutuk. Wajahnya gosong. Pandangannya
runyam. Ia melihat bidak-bidak catur bergerak tak aturan, berjoget,
menunggit-nunggit, meledeknya habis-habisan.
Untungnya, sentuhan tangan Leli di bahu sanggup meredam emosi Apip. Kebetulan
pula mengalun sebuah lagu dangdut dari arah gardu ronda. Sirna amarah Apip. Wah,
kalau tidak, mungkin tangannya gemetar tadi akan membanting papan catur ke
jalan, permainan pun berubah jadi keributan. Terlepas itu pula, Apip menyadari
nyalinya masih segelintir untuk saling baku hantam dengan Naryo. Ia takut KO
:-l
Lagu Merpati Putih milik Ikke Nurjannah mengalun di kesunyian. Akulah yang
memutarnya. Sengaja kubawa tape compo cap Okaido-ku ke gardu ronda supaya para
pemuda turun dari rumahnya masing-masing untuk nongkrong di bawah purnama. Tapi
sial, ditunggu lama tak satu pun yang datang. Otak mereka telah direnggut si
'iblis' bernama tv, warisan peradaban barat. Huh!
Baiklah, aku punya rencana...
Kulempar pandangan ke warung Leli. Si Apip masih merengut. Ia akan marah besar
kalau kau diberi tahu: apalagi yang terjungkal?
"Aduuuh, Pip, patihmu mana?" pekik Leli tiba-tiba, matanya melotot ke papan
catur.
Apip memejam mata, mendengus kesal, menghentakkan kuat-kuat tumit kakinya ke
bumi.
Leli baru mendapat jawaban ketika Naryo mengacungkan patih putih nyaris nempel
di hidungnya yang jumbo. "Dipelintir prajurit kecilku," jelas Naryo, lalu
terkekeh senang.
![]()
Langkah kakiku ringan menapak di jalan. Sesekali kutendang kerikil sampai
berloncatan ke got. Bunyinya menggelutuk bikin suasana tak nyaman dalam hati.
Kutarik Class Mild dari saku jeans, tinggal sebatang, kuselipkan di bibir. Aku
melangkah menuju warung Leli untuk minta api. Sampai di warung, aku tergoda
menepuk bahu Apip yang sedang serius.
"Wah, Pip, hebat! Mau menang, apa?" ledekku.
Apip bergeming. Masalahnya, sekarang pion-nya tinggal raja doang.
"Kemarin kau bilang jago main catur," lanjutku, merasa ledekanlu tadi kurang
mengena.
Apip mendongak marah. "Sialan, aku tak pernah bilang begitu padamu!"
"Ya sudah, kalau tak mau dibilang jago, betina saja."
Dari dalam warung, Lelì tertawa.
Naryo mesem saja.
"Sudah lama kalian main?" aku mengambil korek api di atas meja, menyulut rokok.
"Ini masih ronda 1," jawab Naryo. "Di ronde 2 nanti dia mau balas dendam."
Aku terbahak, lantas pergi. Ronde identik dengan tinju, apakah Apip akan
mengakhiri pertandingan catur itu dengan tinju? Aku baru berhenti terbahak
ketika aku ingin menghisap rokok. Asap menghambur ke udara, menambah pekat warna
kabut
Tak lama setelah aku pergi dari warung Leli, Jejen dan Ryan (keduanya tak
menemukan acara seru di tv) datang memesan teh manis. Jejen mengambil untaian
kerupuk sementara Ryan langsung jongkok di depan papan catur. Anak kelas 3 SMP
itu menyesalkan langkah raja Apip yang terpojok.
"SKAK!" teriak Naryo tiba-tiba.
Apip melengos. Ia mati kutu.
"Sekarang main denganku, Bang Naryo!" Ryan berdiri, seperti hendak menyingkirkan
Posisi duduk Apip di bangku.
Karuan saja Apip nyerongot galak. Ryan dan Jejen saling pandang, melongo. Naryo
tersenyum-senyum.
Si Apip sudah di atas 180 derajat selsius, rupanya.
;-)
'MALAM INI, AKAN TERJADI KEHEBOHAN DI MUARAKONENG'
Leli merenung. "Siapa yang menulis ini?" gumamnya dalam hati. Di tangannya
tergantung secarik kertas bertuliskan kalimat di atas. Kertas itu secara tak
sengaja ia temukan di lapak meja jualannya, ditindih bungkus rokok Class Mild
kosong serta korek api yang pentulnya tinggal 2 batang.
"Ada apa, mbak? Kok menung?" tegur Helmi. Ia sudah beberapa menit hadir di
warung itu.
"Kau yang menulis ini?" Leli balik bertanya sembari menyodorkan kertas.
Helmi menerimanya, lalu dibaca. Ryan dan Jejen sejenak alihkan perhatian dari
papan catur. Naryo menoleh sedikit. Sedang Apip... wah, tampaknya ia berusaha
tak peduli.
"Yeee... apaan itu?" Ryan berseru setelah tahu isi bacaannya. Ia kembali jongkok
depan catur. Matanya sesekali mendelik ke arah Apip. Ia sudah tak sabar ingin
Apip segera menyingkir.
"Kukira surat kiriman pacar," kata Helmi, meremas-remas kertas itu dan
membuangnya ke got.
"Memangnya, pacar mbak siapa, sih?" Ryan bertanya.
Semua mata tertuju ke Leli, semua ingin tahu jawabannya. Dan Apip... dadanya
berdebar.
Leli menggeleng tanpa suara.
"Kau mau tahu, Yan?" kerling Naryo. "Akulah pacarnya," sambil menepuk dadanya
sendiri.
Ryan menjulurkan lidah. Ia tak percaya.
"Benar, mbak?" tanya Helmi.
Leli tersenyum seperti biasa.
"Memang kenapa kau tanya pacar mbak Leli segala?" tiba-tiba Apip nyerobot galak.
"Terserah aku. Apa urusanmu?" balas Ryan kecut.
"Sopan dong sedikit!"
"Eh, aku nanya siapa pacarnya, kok dibilang tidak sopan?"
"BANGSAT!" Apip berdiri.
(hal 2)
Tangannya terkepal, siap dihantamkan ke mulut Ryan. "KAU INGIN TAHU SEPERTI APA
ITU KESOPANAN?" bentaknya.
"Sabar, Pip, sabar!" Naryo seorang penyabar, kitapun tahu. Tapi Apip rupanya
sudah habis kesabaran. Tangan Naryo ditepisnya dengan garang. Tak ketinggalan,
dibanting pula papan catur sampai bidak-bidaknya mabur. Sudah begitu baru ia
membal-bal kepala Ryan.
Jejen tak terima melihat sahabatnya disiksa. Ia segera pasang tinju. Sial bagi
Jejen, sebelum sempat meninju, Apip lebih dulu menyodok sesuatu di selangkangan
pahanya. Jejen meraung dan ambruk dengan mata terjelit. Nyaris pingsan.
Helmi dengan kalangkabut melerai. Alhasil, ia mendapat jatah 1 bogem mentah.
Sampai akhirnya... jekuk, jekuk, jekuk!
Apip terjungkal, memegang perutnya, mencoba bangkit, melotot ke arah Naryo penuh
dendam, lalu pergi sempoyongan sambil terus memegang perutnya.
"Ini bukan berarti saya sudah habis kesabaran," ujar Naryo sambil mengelus
kepalan tangannya. Tak cuma dielus, bahkan ditiup-tiup segala. Barusan Naryo
menggunakan tinjunya itu untuk mengakhiri aksi brutal Apip. 3 kali jotos di
perut, si Apip langsung KO.
:-o
"Mbak!"
Leli terperanjat. Lamunannya buyar seketika.
Tapi rupanya bukan cuma Leli yang kaget, beberapa pemuda yang lagi mengobrolkan
acara tv pun tersentak. Mereka melihat Apip datang berkacak pinggang.
"Ada apa, Pip?" Leli berusaha tersenyum.
"Mana Naryo?"
Leli merenung sejenak. Ia curiga.
"Dia sudah pulang," terangnya. "Ada apa lagi kau bertanya Naryo, Pip?"
Apip mendengus. Matanya berkeliling dari satu kepala ke kepala lain. Helmi,
Jejen, Agus dan... Apip melotot galak ke wajah Ryan. Yang diplototi kali ini
berlindung di balik punggung Agus, takut dibalbal lagi.
Apip bergegas pergi.
"Dia galak sekali, Gus, si Ryan dihajarnya," kata Helmi pada Agus.
"Iya, nih, kepalaku benjol-benjol."
"Si Jejen yang parah. Biji kemaluannya pecah jadi empat."
"Akhirnya Apip terjungkal dipukul Naryo perutnya."
"Dan dia langsung kabur. Berak, kali."
"Eh, lihat!" Leli berseru. "Dia masuk gang menuju rumah Apip!"
"Biarkan saja, mbak!" Ryan kecut.
Tapi hati Leli was-was.
Pas, ketika Leli bersiap-siap menyusul Apip, sayup terdengar suara kentongan
bertalu-talu, disusul teriakan...
"MALIIING...!"
:-o
Naryo sedang menyantap rebus telur puyuh ketika terdengar teriakan maling di
luar itu. Ia bergegas ke dapur, menyelipkan palu kecil di pinggangnya (untuk
berjaga-jaga kalau nanti ia berhadapan dengan maling itu), lalu menuju pintu
depan. Begitu pintu dibuka, ia terkejut melihat Apip berdiri tegak menghadangnya
dengan wajah beringas.
"Belum beres masalah, rupanya. Pip," tegur Naryo. "Atau...Eh, kudengar heboh
orang teriak maling. Jangan-jangan kau malingnya. Mau apa kemari? Minta suaka?"
"Aku datang untuk mengalihkan perhatian orang-orang dari maling itu kepadamu,"
jawab Apip, dingin.
"Caranya?" pancing Naryo.
Apip menyeringai. Dimasukkan tangannya ke balik baju dan menyentuh sesuatu di
pinggangnya. Bibirnya dimonyongkan. "Aku harus melenyapkanmu dari muka bumi
ini," ancamnya.
Naryo tersentak. Ia dalam bahaya. Ia mundur selangkah. Terdengar bunyi 'duk'
ketika pinggangnya menyentuh pintu. Naryo ambil sikap waspada.
"Kau sedang bercanda, Pip,"
Apip tertawa. "Ha, penakut, kau!"
2 detik setelah mengucapkan kalimat itu, dan tampaknya ia tak ingin memberi
kesempatan lagi pada Naryo untuk bicara, Apip mencabut benda di pinggangnya,
menghambur ke depan Naryo, menusukkan benda itu tepat ke dada Naryo.
Sampai jarak sepuluh meteran dari rumah Naryo, barangkali masih terdengar suara
Apip tertawa. Hanya sesaat. Tawa itu sekonyong-konyong diganti oleh jerit
kesakitan yang menyayat.
:-(
Nun jauh di perbatasan desa, sang maling akhirnya tertangkap. Sudah pasti, itu
maling babak-belur. Barang hasil curian segera diamankan, yakni... sepasang
sandal jepit.
Korbannya adalah Bang Dadung. Ia sedang nonton laga Mandarin di tv saat
sandalnya dicuri. Untunglah, tiba-tiba ada orang, entah siapa, berteriak maling
di teras rumahnya. Lalu terjadilah pengejaran yang benar-benar heboh. Ini
pertama kalinya terjadi di Muarakoneng.
![]()
Badai penyesalan bergulung hebat dalam hati, menguras tenaga, Naryo terkulai di
sudut ruang rumahnya. Lemas.
Ia lagi-lagi bertanya pada dirinya sendiri, setan apa gerangan yang telah
menggelapkan mata hatinya? Setan mana yang telah merasuk isi pikirannya, hingga
ia kelepasan tangan membunuh Apip? Ia merasa, "Ini mimpi buruk."
Jengkel. Kesal. Ya, ia teramat kesal karena Apip tak habis-habisnya
mempermainkan dirinya. Selama ini ia selalu mengimbangi kekesalannya dengan
kesabaran, tapi ternyata kesabaran ada batasnya. Ia habis akal untuk tetap
bersabar. Dan kejadian itu begitu spontan, sepertinya Naryo tak punya kesempatan
untuk berpikir panjang, langsung dicabut palu kecil dari pinggangnya,
dibenturkan kuat-kuat besi itu ke pelipis Apip, kiri dan kanan. Seakan tak puas,
diangkat lagi palu dan dipukulkan telak ke ubun-ubun Apip. Apip mengerang
'maratan langit'. Darah menyembur di kedua pelipisnya. Darah muncrat dari
(hal 3)
ubun-ubun kepalanya yang pecah. Nyawa pemuda itu melayang.
Naryo memandang nanar mayat Apip yang kini membujur kaku di bawah jendela dekat
kursi tamu. Ia berharap Tuhan bermurah hati mengembalikan nyawa Apip ke
jasadnya. Entahlah, pikirannya kalut. Ia tak sanggup lagi berpikir jernih.
Barusan ia dengan kalangkabut menyeret mayat itu masuk dalam rumah. Melihat
darah berceceran di lantai, ia berniat ambil kain untuk mengelapnya. Tapi, yah,
ia lantas terkulai lemas, terkulai dengan mata nanar memandang mayat Apip.
Perlahan diturunkan tatapannya dan meneliti telapak tangannya sendiri. "Aku
membunuh," bisiknya tertahan. Tatapan bergerak ke atas meja. Palu itu, di
tangannya, membinasakan 1 nyawa.
Naryo memejam. Tiba-tiba ia teringat 'belati' milik Apip tertinggal di teras. Ia
mencoba bangkit untuk mengambilnya, tapi lantas ia terkulai lagi. Biarlah,
pikirnya, toh bukan belati beneran.
Naryo tahu ada beberapa pohon pisang di halaman rumah Apip yang buahnya sudah
masak. Rupanya pohon itu sudah dipanen. Dan Apip datang sengaja menyelipkan
salah satu buah pisang hasil panennya untuk menakut-nakuti Naryo. Ah, si Apip
tertawa ngakak saat Naryo meloncat ketakutan karena menyangka buah pisang yang
dihunuskan ke dadanya itu adalah belati. Terang saja Naryo naik pitam, lalu
dibunuhlah si Apip hanya dengan 3 kali ketukan palu.
Tok, tok, dok!
:-o
Warga Muarakoneng, terutama mereka yang ikut mengejar maling, merasa amat
terpukul karena telah kehilangan beberapa menit waktu mereka, yang seharusnya
untuk nonton tv, malah dipakai untuk menyelamatkan sandal jepit Bang Dadung.
Cih!
Aku, sang maling, meski harus babak-belur, menikmati betul keramaian suasana di
Muarakoneng, malam ini.
Cerpen Lainnya
- SINDROM MOTOR?
- BAHAGIA PERIH
- SUATU MALAM DI MUARAKONENG
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
- Percintaan Daun dan Ranting
- LELAKI MERDEKA
- Anomali Mimpi
- Heri
- OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
- Menanti Maafmu
- Campus Idol
- Disudut Hatimu Aku Menanti
- LANGIT-LANGIT BUATKU
- catatan harian aini

1245209 Visitors
Online :21
users