Kumpulan Cerita Pendek
BAHAGIA PERIH
Posted : 19 Apr 2008 | Dibaca : 7715 Kali
Penulis : Dedes Sudiyanto Akhir bulan November
pertengahan musim hujan. Di saat cahaya purnama menebar di pucuk pepohonan,
rumput di tengah alun-alun bergoyang dihembus angin gunung. Kerikil-kerikil
kecil di jalan basah oleh gerimis yang turun sesaat sebelum sang surya
tenggelam, kini berkilauan ditimpa cahaya bulan. Barisan lampu listrik 5 watt di
setiap halaman rumah membantu sang bulan menerangi malam, kerlap-kerlip
cahayanya di antara celah-celah daun.
Rumah Wira berdiri megah di tepi alun-alun. Halamannya luas, dikelilingi
pagartembok setinggi 2 meter. Mantan kepala desa ini akan marah besar kalau
kemegahan rumahnya dihubung-hubungkan dengan status lamanya sebagai bekas orang
nomor satu di Pasirbambu.
Malam ini, seorang pemuda berhasil meloncati pagar tembok itu. Ia menyusup ke
bagian samping rumah yang cukup gelap. Langkahnya mendap-
mendap mencurigakan. Kalau bukan hendak mencuri atau merampok. Lalu mau apa?
Pemuda berperawakan tegap itu sembunyi sejenak di bawah pohon belimbing. Merasa
yakin kehadirannya tak diketahui orang, ia melangkah lagi dengan hati-hati,
menuju jendela sebuah kamar. Inilah kamar Winne, putri Wira yang primadona desa.
Jika saja Wira tahu kehadiran pemuda itu, ia pasti lekas angkat senjata, sebab
ada kemungkinan putrinya akan dibawa minggat dari desa.
"Aku bukan jagoan di layar kaca. Aku orang biasa. Aku hidup menjalani realita.
Kalau nasibku harus sial, ya sial. Tak ada skenario yang mengharuskan jalinan
cintaku akan berakhir bahagia, kecuali skenario Tuhan yang sama-sekali tak
kuketahui," pemuda itu membatin. Mukanya beku, cermin suasana hati yang tak
bahagia.
Semua orang di Pasirbambu ini tahu tahu bahwa pemuda itu pemuda itu adalah
kekasih Winne, semenjak dahulu, saat keduanya menginjak masa remaja, lima tahun
yang lalu. Akan tetapi, jalinan cinta yang dirajut serius kini tergerus oleh
idelisme Wira yang tak menghendaki putrinya berpendamping seorang pria
sembarangan. Dias, nama pemuda itu, yang usahanya sebagai pembuat kecap, di mata
Wira adalah sampah masyarakat.
"Maka kau jangan berprasangka bahwa aku akan nekat menculik Winne," lanjut suara
batinnya. Entah kepada siapa ia memanggil 'kau'. Barangkali ia teringat ucapan
seorang sahabatnya, Panji, yang pernah menyarankan Dias mengajak Winne minggat.
"Bagaimana kau akan hidup bahagia jika kau takut memperjuangkan cita-citamu?"
begitu Panji pernah menasehati. "Winne sekarang bertunangan dengan lelaki
bernama Adjie, seorang pengusaha mapan dari kota. Dia juga tampan, lebih tampan
daripada kau. Ia memiliki apa pun yang dikehendaki orang tua macam pak Wira. Apa
kau kira kau sanggup menghadapi kenyataan itu, hah? Kau sanggup melihat Winne
duduk bersanding di pelaminan bersama pria itu? Kau sanggup membayangkan malam
pertama mereka? Kau sanggup?"
Pertanyaan yang dilontarkan Panji bertubi-tubi itu hanya dijawab dengan helaan
nafas panjang, serta kalimat -yang menurut Panji- sia-sia: "Dia bukan jodohku."
Pahit, getir, tak berdaya. Bahkan Dias sendiri tak menyangka, setelah
mengucapkan kalimat itu ia merasa satu tonjokkan keras menghantam telak ulu
hatinya.
Sampai detik ini, detik ketika ia termangu di balik jendela kamar Winne, ia
masih merasakan dadanya sesak akibat tonjokkan itu.
"Kau lelaki lemah!"
Dias memejam mata.
"Lalu, malam ini apa yang kau harapkan darinya?"
"Rindu. Aku ingin bertemu dengannya. Dan mungkin untuk yang terakhir kali."
"Setelah pertemuan itu apa yang kau dapatkan?"
"Kebahagiaan."
"Sampai kapan bahagia?"
Diam. Dias takjawab.
"Jangan pernah kau dustai perasaanmu sendiri! Jangan kau dengar lagu perpisahan
yang merelakan kepergian kekasihnya! Kau pasrah, kau menyerah, dan kau munafik.
Kau tahu, tak ada rela yang terpaksa. Keikhlasan itu tanpa beban. Jadi,
lakukanlah sesuatu demi kebahagiaanmu. Bawalah Winne pergi dari desa ini. Nikahi
dia, seutuhnya. Seumur hidup kau bahagia bersamanya. Bukankah itu sejatinya
kebahagiaan?"
Dias mencoba enyahkan ingatannya akan ucapan Panji itu. Ia masih mematung di
tengah keremangan. Angin pegunungan bersemilir, dinginnya menusuk-nusuk. Dengan
dada berdebar Dias menempelkan telinganya di kaca jendela.
Terdengar lamat-lamat suara orang mengobrol di dalam kamar. Dias memasang
pendengarannya lebih kuat, tapi percuma, ia tak mendengar jelas obrolan mereka.
Ia hanya bisa memastikan bahwa Winne ada di dalam kamar ditemani ibunya.
***
"Kau terlihat lima tahun lebih tua dari usiamu sebenarnya," kata Isyah, istri
Wira, demi melihat wajah Winne yang selalu kusut masam. Perempuan baya itu duduk
di tepian ranjang.
Winne bergeming. Ia sudah beberapa menit tegak menghadap dinding memandangi
lukisan pantai. Langitnya yang biru dibubuhi tulisan indah nama lengkap Winne
Larasati serta tanggal kelahirannya.
"Seminggu lagi hari pernikahanmu, Win. Harusnya kau mulai merawat diri. Jangan
perlihatkan cemberutmu itu pada calon suamimu. Sering-seringlah tersenyum.
Apalagi nanti akan banyak orang melihatmu. Aneh kalau ada pengantin wajahnya
murung begitu!"
Winne berbalik, melangkah lesu mendekati ibunya, menjatuhkan pantatnya ke kursi.
Sekilas ia melihat bayangan wajahnya sendiri di cermin. Memang, tampak lebih
tua.
"Bagaimana agar aku bisa murah tersenyum, Bu?" tanyanya.
Isyah mengambil guci keramik mungil lalu mengelapnya dengan sapu tangan. "Kau
harus membiasakan diri nonton Mama Mia Super Dut," jawabnya.
Winne menarik sudut bibirnya ke tepi. Begitu singkat. Isyah tak menyangka bahwa
itu adalah senyuman.
"Jangan menyeringai, dong!" ia menyindir.
"Aku ingin tersenyum di depan Ibu, tapi hatiku tidak bahagia untuk tersenyum,"
ujar Winne sembari tertunduk.
"Kebahagiaanmu apa?"tanya Isyah.
Winne bungkam.
"Kau sudah cukup umur untuk menikah, Win. Ibu ini nikah dengan bapakmu di usia
16 tahun. Ibu senang. Ibu bahagia."
"Seandainya Ibu tidak mencintai Bapak?"
"Apa kau tak mencintai Adjie?"
Winne menggeleng.
"Tampan, sopan, kaya, dari kota. Benar kau tak mencintainya?"
Jawaban Winne masih gelengan kepala.
"Seandainya Adjie jadi bupati? Gubernur? Pejabat tinggi? Mentri? Presiden?"
"Aku akan tetap mencintai Dias, Bu!" tukas Winne, mantap.
Isyah terhenyak. Guci yang dipegangnya nyaris lepas. "Dias? Tukang kecap?"
Winne menundukkan kepala dalam-dalam. Hatinya perih mendengar ejekan sang ibu
terhadap kekasihnya.
"Kau melupakan statusmu, Win. Bapakmu mantan kepala desa, dihormati, disegani.
Jika kau punya suami orang mapan, itu akan menjaga martabat keluarga. Bukan
seperti Dias."
"Bu, kalau kutahu jadi anak kelurga terhormat tak bebas menentukan pilihan
hidupnya sendiri, tentu aku memilih dilahirkan dari keluarga biasa."
"WINNE!" Isyah terpekik. "Jangan bicara sembarangan. Bisa kualat! Kau harus
lihat masa depan, Win. Mau kau hidup susah? Mau kau hidup miskin?"
"Ibu mau bilang Dias pemuda miskin?"
Isyah menghela napas. Sejurus terdiam.
"Nanti kau akan seperti Ibu, punya anak, punya cucu. Anakmu akan disekolahkan.
Kalau dia pintar, pasti sekolahnya akan tinggi, seperti Adjie yang S2."
"Ibu mau bilang Dias hanya lulusan SMP?"
"WINNE!" Isyah jengkel. Ia jadi ingin membanting guci saking jengkelnya.
Winne mengerjapkan mata tak perduli.
"Win," Isyah mencoba berkata lembut, matanya berkaca-kaca. "Bapak ibumu ini
hanya ingin melihat kau dan keluargamu nanti bahagia, dengan cara yang
membahagiakan kami juga."
"Mungkin aku, Ibu, Bapak akan sama-sama bahagia seandainya poligami
diperbolehkan untuk wanita."
"APA?" Isyah terkejut. "Apa maksudmu?"
"Aku akan menikah dengan Adjie untuk kebahagiaan Ibu, kemudian aku akan menikah
lagi dengan Dias untuk kebahagiaanku."
Praaang!
Barangkali Winne hanya sekedar bergurau. Tapi akibat gurauannya, guci kesayangan
Isyah terlepas dan pecah.
***
Dias terkejut mendengar bunyi pecahan tadi. Disandarkan punggungnya lebih rapat
ke dinding di samping jendela. Telinga kembali dipasang. Yang terdengar kemudian
adalah suara pintu ditutup kuat-kuat. Ia menarik napas lega.
Setelah menunggu beberapa detik untuk memastikan tidak ada lagi suara obrolan,
Dias mengetuk pelan kaca jendela.
Kain gorden terkuak pada ketukan yang kelima. Cahaya neon di kamar Winne
langsung muncrat ke wajah Dias. Pemuda itu mengerjpkan mata.
"Dias?" sapa Winne setelah kaca jendela dibuka. Ada binar di matanya. Sedetik
kemudian ia berlari menuju pintu untuk menguncinya.
"Iya, Win. Ini aku. Maaf...," Dias terbata-bata setelah Winne kembali ke
hadapannya.
Winne tersenyum. Barangkali hanya kepada Dias gadis itu bisa tersenyum. Manis,
lagi.
Beberapa detik saling tatap dalam kebisuan. Winne menunggu Dias meneruskan
ucapannya tadi. Tapi Dias tampak gugup. Mungkin juga takut.
"Maaf atas apa, Ias?" desak Winne.
Dias mengangkat tangan. Bukan untuk meraih tangan Winne seperti yang disangka
Winne sebelumnya. Dias malah membuka satu persatu jemari. Mulutnya menghitung.
"20 hari, Win, kita tak bertemu," desahnya kemudian.
Winne termangu. Ya, selama itulah ia tersiksa memendam rindu. Terhitung sejak ia
resmi tunangan -lebih tepatnya: ditunangkan- dengan Adjie.
"Kau tak rindu padaku?" bisik Dias lagi.
Winne mengangguk pelan. Diraihnya tangan Dias, lalu dibawa ke dekapannya.
Lagi, keduanya membisu. Ada niat yang sejak lama tak terlaksana. Dias ingin
sekali saja mencium gadis itu. Tapi, lagi-lagi perasaan malu menyergapnya.
"Aku sudah bertunangan, Ias. Kau mau lihat cincinnya?" lirih Winne tiba-tiba.
Sret!
Dias merasa sembilu tajam menusuk hatinya
"Mau lihat cincinnya?" Winne mengulang tanya. Tatapannya menyelidik.
Dias menggeleng. "Kenapa tidak kau pasang di jarimu?" tanyanya kemudian.
"Kau akan terluka jika aku memasangnya," jawab Winne.
Dias tersenyum bahagia.
"Seminggu lagi aku menikah, Ias," sambung Winne.
Sret!
Ini untuk kedua kalinya. Ucapan itu terdengar amat perih di telinga Dias. Tapi
dicobanya mengulum senyum.
Melihat senyum Dias, wajah Winne berubah kecut. "Kau tidak cemburu?"
"Kalan cemburuku bisa membuatmu bahagia, aku jawab: ya, aku cemburu."
"Tapi kau tak berbuat apa-apa untuk melawan perasaan cemburumu!"
Dias tertegun. Apa maksudnya?
"Maksudku, kau terlalu banyak mengalah
pada kenyataan. Aku tak suka lelaki model begini. Aku benci lelaki macam kau!"
Sret!
"Jadi kau ingin aku membunuh calon suamimu?"
"Itu bodoh. Itu akan membuat kau mendekam 20 tahun di penjara. Kalau Adjie mati
dan kau dipenjara, lalu aku untuk siapa?"
"Banyak lelaki lain yang sanggup melamarmu, Win. Sanggup dalam hal duniawi untuk
memenuhi keinginan orang tuamu."
"Dan kau akan membunuhnya lagi?"
"Tak mungkin, sebab aku sudah dipenjara. Aku tak akan tahu dan tak akan perduli
kau milik siapa. Aku tak akan lagi pikirkan kamu. Aku capek."
"Dias..."
"Kau sendiri selalu mengalah pada kemauan orangtuamu. Seharusnya kau tolak
lamaran pria itu. Seharusnya kau katakan bahwa kau tak bisa hidup tanpaku. Kau
diam saja. Kau turuti saja apa mau mereka. Kau korbankan cinta kita. Aku tak
suka wanita seperti itu!"
Gelegar!
Hati Winne bagai disambar halilintar. Ia menelukupkan wajahnya dan menangis. Di
antara isaknya ia berkata, "Aku menangis, Ias. Tapi mereka tak mau perduli
dengan tangisku."
Mau tak mau mencairlah kebekuan di wajah Dias. Terenyuh ia dengan tangisan perih
itu. Ia kembali meraih tangan Winne, ditarik sedikit keluar jendela.
"Lihat bulan itu!" suruh Dias sambil mendongak ke bulan.
Winne turut memandang bulan.
"Aku akan terus memandang bulan itu, nanti di rumahku. Aku akan meminta supaya
ia mau turun ke bumi untuk menemaniku di kala sendiri. Kalau dia tak juga turun
ke bumi, akan kupasang sayap buatan di tanganku agar aku bisa terbang
memeluknya. Dan jika sayapku patah sebelum sempat aku memeluknya, berarti aku
hanya bisa memandangnya saja."
Winne terkesiap saat Dias melepas genggaman tangannya. Ia melihat senyum pahit
terkulum di bibir pemuda itu. Winne tak sempat berkata apa-apa lagi karena Dias
sudah berbalik melangkah pergi, meninggalkannya. Tolehan terakhir dari Dias
kembali menyeret air mata Winne dari sudut mata ke sudut bibirnya.
"Maafkan aku, Dias!" bisiknya pedih.
Penyesalan bergolak hebat dalam dada. Betapa Winne harus akui bahwa semua
ucapannya tadi memang disengaja untuk membuat Dias cemburu. Ia berharap Dias
melampiaskan cemburunya itu dengan berbuat apa saja terhadap dirinya. Ia rela
apabila Dias menculiknya. Ia akan bahagia andai Dias nekat melakukan hal itu.
Atau... ah, Winne pun siap menyerahkan segalanya, bahkan kehormatannya, andai
Dias mau. Tapi Dias memilih pergi, memilih terluka, memilih yang pantas dipilih
oleh pria macam dia: sabar, tabah, pasrah.
Sementara Dias terseok-seok menuju rumahnya. Hatinya perih, teriris-iris.
Dadanya semakin sesak. Sebuah kalimat terucap di bibirnya: "Pertemuan tadi,
betapa pun perih, bagiku tetaplah kebahagiaan."
(penggalan novel berjudul TRIK, belum diterbitkan)
Cerpen Lainnya
- SINDROM MOTOR?
- BAHAGIA PERIH
- SUATU MALAM DI MUARAKONENG
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 7
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 6
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 5
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 4
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 3
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 2
- Cinta Yang telah mendarah daging bagian 1
- Percintaan Daun dan Ranting
- LELAKI MERDEKA
- Anomali Mimpi
- Heri
- OLD STORY YANG AKU GA PERNAH BOSAN BACANYA
- Menanti Maafmu
- Campus Idol
- Disudut Hatimu Aku Menanti
- LANGIT-LANGIT BUATKU
- catatan harian aini

1247629 Visitors
Online :13
users